Senin, 21 April 2014

terimakasih untuk mengajari agar aku tak seperti mu

intruksi
menggunakan telunjuk tanpa menghargai seseorang yang menggunakannya
menggunakan nada dengan tanda tanya tanpa pernah mengajari jawaban atas tanya tersebut
menggunakan kedudukan tanpa berusaha menjadi panutan

bekerja tanpa berusaha mencapai tujuan
membuat jadwal tapi mengacaukan dengan sisipan yang mengalahkan prioritas
form form penilaian yang hanya menjadi arsip kosong yang hanya berisi garis
tanda tangan sudah pasti jadi keinginan atas sebuah kesepakatan

bukan materi yang tak cukup hanya pola hidup yang tak patut
waktu susah mengeluh, dapat senang seringkali khilaf akan syukur
relasi awal baik berakhir buruk, sikap berpikir negatif sepertinya sudah akut
inginkan perubahan tapi beranjak terlalu kalut

memori dari kesalahan orang lain selalu dijadikan alasan
memikirkan tapi tak melakukan banyak pergerakan
berharap tugas bisa selesai tapi enggan tuk mengerjakan
punya banyak waktu luang tapi asik dengan kesibukan

perhitungan akan untung tapi selalu merugi
dana masuk yang masuk memuai tertinggal defisit
mengejar tapi tak tau akan birokrasi
selalu ingin cepat tapi tak bisa diajak berkomunikasi

harus hari ini
kata yang sering terucap,sudah dilaksanakan tapi tak memberikan bantuan
kami hanya suara minoritas,suara mu kepada mereka yang bisa mewujudkannya
bukan kami tak melakukan,sudah dilakukan dan hanya diberikan janji murahan
bukankah kami sering menyampaikan janji murahan itu?apa kau menggap kami sebagai penipu?
masih memaksa dengan kata harus, tolong beritahu kepada siapa kami harus mengadu

terimakasih untuk mengajariku agar tak seperti mu
seperti yang ku tuliskan, ku ungkapkan?tentu saja tapi seperti siulan anak kecil yang main layang-layang
bukan kami tak menghargaimu,tapi sedikit muak akan prilaku dan pribadi yang menganggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar