ku kembalii
ke kota dimana diri bertemu dengan pribadi
ke tempat dimana semua mimpi ku mulai
ke rumah dimana nikmatnya secangkir kopi jauh lebih nikmat dari pada tempat lainnya
makanan yang sama dengan ku rasa waktu perjuangan meraih toga
terasa jauh lebih enak karna bumbu rindu
saudara bercengkrama lirih,tertawa terbahak - bahak jadi penggiring yang setia
senang dan bersenang - senang sesungguhnya hanya disini
sambutan hangat sangat berkenan dihati
cara bercanda yang sama dengan suasana yang jauh lebih kurindukan
obrolan malam yang mengasah kemampuan berpikir masih dihadirkan
ahhhh,tetalah seperti ini lingkungan ku
biarkan orang-orang datang dan pergi, tetap lah nyaman dengan dekapmu
terlalu nyaman suasana ini ya rabb
seakan berat langkah melangkah pergi
apa suasana itu hanya bisa ku rasakan disini?
ahhhhh sudahlah,cukup sudah aku merindu
menikmati lagi kopi dengan nikmat
mengamati sekitar,mereka tertawa dengan cara yang sama
mereka berdiskusi malam dengan cara yang sama
dan saudara - saudara ku berjuang di depan keyboard yang tak terjamah
terimakasih ya raabb masih kau ijinkan aku untuk menikmati suasana ini
*sambil menikmati secangkir capucino hangat dan ikan bakar tanpa sambal di puri bamboo
Rabu, 14 Januari 2015
Palsu dan Kepalsuan Dunia
Topeng berganti,
Rupa menawan menusuk diri
Omongan jadi belati ketika kata terhatur berprasangka bakti
Bidak di adu agar raja tersenyum puas dengan narasi
Silahturahim putus gara - gara lisan
Sang raja tertawa puas skenario berhasil di jalankan
Tahapan pendewasaan diri seperti uji tak bertepi
Lawan kesampingkan hati dan nurani
Ada raja yang kau kira mengayomi
menusukan belati berkarat dengan mendekapmu lebih erat
Entah apa yang dicari, Mati mu mungkin akhir dari uji
atau kah cacat dan terseok mu applause dari sang raja berdiri
Tak perlu cari dosa atas pribadi
Bukan ku suci,tidak,aku hanya muak dengan pribadi yang mengakui diri sebagai manusia berdedikasi
Ucap yang tak sesuai dengan tingkah
Manis tutur tak sesuai dengan belati yang memerah melumuri
Raja,Hadirkan sikap bijaksanamu menyikapi kondisi
Bidak memang umpan,diberi dan diarahkan
Tapi seberapa banyak bidakmu jatuh,berperang dan hendak kau korbankan "lagi"
Atau kau jauh lebih bahagia melihat bidakmu saling hantam?sementara musuh kerajaan mu tertawa girang menontong perang
siasat dan mensiasati
Raja,palsu mu hanya sedikit dari kepalsuan dunia
Tak perlu ku kira kau ingin di akui sebagai manusia
bukan kah kau raja?sadar diri dan kondisi,awasi setiap perjalanan pribadi,tak perlu palsu yang hanya mengotori
Rupa menawan menusuk diri
Omongan jadi belati ketika kata terhatur berprasangka bakti
Bidak di adu agar raja tersenyum puas dengan narasi
Silahturahim putus gara - gara lisan
Sang raja tertawa puas skenario berhasil di jalankan
Tahapan pendewasaan diri seperti uji tak bertepi
Lawan kesampingkan hati dan nurani
Ada raja yang kau kira mengayomi
menusukan belati berkarat dengan mendekapmu lebih erat
Entah apa yang dicari, Mati mu mungkin akhir dari uji
atau kah cacat dan terseok mu applause dari sang raja berdiri
Tak perlu cari dosa atas pribadi
Bukan ku suci,tidak,aku hanya muak dengan pribadi yang mengakui diri sebagai manusia berdedikasi
Ucap yang tak sesuai dengan tingkah
Manis tutur tak sesuai dengan belati yang memerah melumuri
Raja,Hadirkan sikap bijaksanamu menyikapi kondisi
Bidak memang umpan,diberi dan diarahkan
Tapi seberapa banyak bidakmu jatuh,berperang dan hendak kau korbankan "lagi"
Atau kau jauh lebih bahagia melihat bidakmu saling hantam?sementara musuh kerajaan mu tertawa girang menontong perang
siasat dan mensiasati
Raja,palsu mu hanya sedikit dari kepalsuan dunia
Tak perlu ku kira kau ingin di akui sebagai manusia
bukan kah kau raja?sadar diri dan kondisi,awasi setiap perjalanan pribadi,tak perlu palsu yang hanya mengotori
Langganan:
Komentar (Atom)